Referensi Penangkaran Dan Perawatan Burung Berkicau

Mengetahui Penyebab Kegagalan Penangkaran Murai Batu

Sangat penting untuk bagaimana sesungguhnya mengetahui penyebab kegagalan penangkaran murai batu. Bahwa sukses menangkarkan burung murai batu adalah bagaimana menyamakan waktu matang hormon antara jantan dan betina. Banyak sekali penangkar yang putus harapan karena telah dua-tiga bahkan mungkin empat tahun burung murainya tidak pernah mau bertelor, atau kalaupun bertelor tidak berisi(kosong), atau kalaupun telornya isi tetapi tak mau mengerami dan sebagainya. Intinya: burung murai batu yang ditangkarkan tidak pernah ber-reproduksi.

 Baca yang ini dulu : Menjodohkan burung murai batu

Penyebab utama dari masalah ini adalah masa kematangan hormonal antara jantan dan betina tidak bersamaan waktunya. Perlu diketahui, burung betina mengalamiatang hormon secara rutin setiap bulan (selalu datang masa subur setiap bulannya), sementara untuk pejantan belum tentu datang.

Tanda burung murai batu sedang matang hormonalnya adalah menjadi lebih agresif, bunyi terus-menerus, dan selalu bergerak lincah kesana-kemari. Karena agresif, sering mengejar-ngejar burung lainnya (jantan ngejar-ngejar betina dan sebaliknya). Jika masa kesuburan ( matang hormon )antara pejantan dan betina tidak bersamaan, maka hal ini menyebabkan beberapa hal, antara lain:

Pertama,
Telor kosong, disebabkan pejantan tidak membuahi betinanya, pada saat betina memasuki masa subur. Kalaupun betinanya mengeram, menjadi percuma karena tidak akan menetas.

Kedua,
Sarang/telor berantakan, disebabkan masa kesuburan itu datang terlalu cepat, maka entah itu jantan atau betina akan mengacak- acak sarang. Sebenarnya, tidak bermaksud merusak telor atau sarang, namun itulah sifat alamiah burung ketika datang masa kesuburannya, mencoba kembali menyusun sarang. Burung mempunyai kebiasaan bersarang pada tempat yang sama, dapat dibayangkan akibatnya, mengacak- acak sarang yang ada telornya tak peduli itu telor mereka sendiri.

Ketiga.
Pejantan dan betina tidak akur, jika masa kesuburan betina datang ketika pejantan tidak merespon, maka dipastikan si betina mengejar-ngejar si jantan. Karena tidak subur, si jantan terus menghindar dan pada saat yang sama si betina "agresif" dan terus-menerus mengejar. Jika si pejantan bermental bagus, dia akan menyerang balik si betina bukan dengan maksud melayani si betina, tetapi benar-benar membalas patukan-patukan si betina, dan keduanya bertengkar.

Dalam hal menyamakan masa kesuburan ini, penting dibahas masalah perlunya burung murai batu mau diberi jangkrik langsung dari tangan ( nyambar begitu didekatkan jangkrik di depan kandang).Kunci suksesnya adalah dari makanan berprotein tinggi. Namun demikian, Anda tidak bisa memberikan protein sebanyak-banyaknya kepada sepasang burung langsung begitu saja. Mengapa?

Sebab, dengan porsi dua jangkrik setiap pagi dan sore saja misalnya, betina burung yang baru saja habis mengeram (anak sudah diambil) sudah terbangkitkan hormon kesuburannya hanya dalam waktu dua-tiga hari. Sedangkan untuk si jantan, diperlukan lima jangkrik setiap pagi dan sore hari.

Dalam konteks inilah, harus mengatur pemberian jangkrik langsung dari tangan kita kepada masing-masing burung. Taruhlah pada pagi hari saat kita memberi jangkrik burung kebetulan jangkrik pertama dan kedua disambar si betina, maka untuk lima jangkrik berikut harus untuk si jantan semua. Caranya, begitu si betina akan menyambar jangkrik di tangan kita, kita tarik tangan menjauh kandang, tetapi begitu si jantan yang menyambar, langsung kita berikan, begitu seterusnya sampai lima jangkrik terakhir dimakan semua oleh si jantan. Tak peduli mana yang menyambar jangkrik, yang jelas kita harus mengatur porsi jangkrik pembangkit hormon kesuburan burung.

Ini sepertinya hal yang sederhana, tetapi inilah kunci sukses menyamakan bangkitnya kormonal jantan-betina. Indukan jantan dan betina akan berkicau bersahut-sahutan, bercumbu (saling mematuk lembut alias bermesraan), membuat sarang bersama, kawin dan si betina bertelor. Langkah selanjutnya adalah menghentikan sementara pemberian jangkrik atau apapun makanan berprotein tinggi kepada keduanya. Dua hari sebelum masa mengeram berakhir, barulah kepada pasangan itu diberikan jangkrik lagi, dengan porsi yang perbandingannya seperti sebutkan di atas. Dengan treatment tetap seperti itu, maka dipastikan burung murai batu akan harmonis dengan pasangannya.


Nah, kalau murai batu tidak mau menyambar jangkrik dari tangan kita, bagaimana kita akan mengatur pemberian makanan kepada mereka dengan perbandingan yang terukur itu?. Di sinilah letak perlunya burung mau menyambar makanan langsung dari tangan kita. Atau barangkali Anda punya pemikiran lain tentang cara mengatur menu seperti itu? siapa tahu Anda secara tidak sengaja menemukan ide lain. Oke? selamat mencoba....